Romanticism of a Wrap Rice


Note: English & bahasa Indonesia (Bhs Indonesia berada di bagian bawah tulisan ini)

img-20131015-wa0032

I called him Pak’e (means : dad). He was a hard, strong figure and disciplined father. The figure reflected the strength of all the action and his behavior. The characters are very different comparing to my mother. Two different characters are very different … united and establish affection until he died at the age of 81 years. Characters that opposite each other between the two. Although different, Pak’e (=dad) and Mak’e (= mom) (as I call them) … is very compact in educating children and grandchildren.

Poverty through which my parents did not deter them to stick together and work hard. Initially, Dad is a labor of fetching water coconut sap, and mom helped neighbors for washing, but along with the grit and tenacity they can trade. Seasonal trade. This means that a wide range of goods sold according to market needs. Trade as he walked to the market according to the market crowd  (Pahing, pound, wage, kliwon, legi). Note: the market based on the 5-day count.

Leaving the middle of the night, at midnight they stop at the mosque for prayers tahajud. And if Ramadhan, they bring food for sahur on the road. And provisions brought in only 1 packet of rice (instead of 2 packs of rice). When the time dawn, Mom opened the package, and both just looked at each other and did not eat it. Dad ask Mom to eat first, but Mom says: “I’ve dawn, this is for you, my dear.”  Dad began eating the rice, and Dad not finish it. Mom ask: “Why not run out?” Dad replied: “I’ve had enough.” And Mom had spent the rice. Dad knew that mom does not eat yet, but mom lied to make dad want to eat rice it.

Although dad gone .. he was a person who always gives a lovely character to me. Behind the strong & discipline character, you have mom were always gentle and always smiling. Romanticism simple dad and mom do is exemplary that has meaningful for children. I will always love you. Dad is not only the figure of the husband who is very responsible, but Dad is the best for me.

I know, Dad not know what it was Father’s Day … But I thank you has been a great father to me … brothers, sisters, and nephews, nieces. And we are very proud of you. May God always give you love. #

Romantisme Sebungkus Nasi

Saya memangilnya Pak’e.  Dia sosok seorang bapak yang keras dan disiplin.  Sosok kuatnya tercermin dari semua tindakan dan sikap kesehariannya.  Karakter yang sangat berbeda dengan ibu saya.  Dua karakter yang berbeda.. sangat berbeda.. yang bersatu dan menjalin kasih sayang sampai ayahku meninggal pada usia 81 tahun.  Karakter yang saling mengimbangi diantara keduanya.  Meskipun berbeda, Pak’e dan Mak’e (begitu saya sebut mereka)… sangatlah kompak dalam mendidik anak-anak dan cucu-cucunya.

Kemiskinan yang dilalui orangtua saya tidak menghalangi mereka untuk tetap bersatu dan bekerja keras.  Awalnya, Pak’e adalah seorang buruh mengambil air nira kelapa, dan mak’e  buruh mencuci, namun seiring dengan ketabahan dan keuletannya mereka dapat berdagang.  Berdagang musiman.  Artinya berbagai barang yang dijual sesuai dengan kebutuhan pasar.  Berdagang sambil berjalan menuju pasar sesuai dengan hari pasaran (Pahing, pon, wage, kliwon, legi).  Catatan : pasaran berdasarkan 5 hari hitungan.

Berangkat tengah malam,  di tengah malam berhenti di masjid untuk sholat tahajud.  Dan jika Ramadhan, mereka membawa bekal untuk sahur di jalan. Dan bekal yang dibawa hanya 1 bungkus nasi (bukan 2 bungkus nasi).  Ketika waktunya sahur, Mak’e membuka bungkusan, dan keduanya hanya saling pandang dan tidak memakannya.  Pak’e meminta Mak’e untuk makan terlebih dahulu, tapi Mak’e bilang : “Aku sudah sahur, ini buat kamu Mas.”  Pak’e pun mulai makan nasi tersebut, dan Pak’e tidak menghabiskannya.  Mak’e pun bertanya : “Kenapa nggak habis?”  Pak’e menjawab: “aku sudah kenyang.”   Dan Mak’e pun menghabiskan nasi tersebut.  Pak’e tahu bahwa Mak’e belum sahur, tapi Mak’e berbohong agar Pak’e mau menyantap nasi untuk sahur.

Meskipun Pak’e sudah tidak ada.. beliau adalah sosok yang selalu memberikan karakter yang indah kepada saya.  Di balik kedisiplinan dan karakter yang keras, kau mempunyai Mak’e yang selalu lemah lembut dan selalu tersenyum.  Romantisme sederhana yang Pak’e dan Mak’e lakukan adalah keteladanan yang tiada arti bagi kami anak-anakmu.  Saya akan selalu mencintaimu.  Pak’e bukan hanya sosok suami yang bertangung jawab, Pak’e adalah Bapak yang terbaik buat saya.

Saya tahu, Pak’e tidak tau apa itu Hari Bapak… Tapi saya berterima kasih telah menjadi bapak yang hebat buat saya… kakak, adik, dan keponakan-keponakan.  Dan Kami sangat bangga denganmu.  Semoga Allah selalu memberimu cinta.#

 

 

6 thoughts on “Romanticism of a Wrap Rice

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s