Simple Reminder for Myself


If somebody doesn’t do what we want
it doesn’t mean we can judge his/ her attitude

If others are not the same as us
It does not mean he/ she is wrong
It does not mean we are more righteous

If we do something
Do it for ourselves to avoid disapppointment

Do not force others to understand
But try to be the one who understands

Differences are beautiful
Even it is not easy to appreciate the differences
Respect of difference is the key to be harmony.#

DSC_0184

Friend is Simple, for me


2 languages : Bahasa Indonesia & English (for English, please scroll down)

 

Teman itu sederhana, buat saya

Masih teringat pertama kali saya datang di Bandung (Mei  1995), karena undangan seorang teman.  Saya bilang teman, karena kami merasa “saling” mengharai, dapat saling mendengarkan dan saling berbicara.  Pasti terbayang bahwa kami sering bertemu dan kami tinggal berdekatan.  Tidak, saya tinggal di Solo dan dia tinggal di Bandung.   Kami hanya sekali bertemu di Solo, bertemu tidak sengaja.  Dia bernama Hasti.

Dia datang untuk bertemu teman kos-ku yang bernama Bernadeth, datang jauh-jauh dari  Bandung tapi Bernadeth tidak ada di kos, karena sedang ada turnamen Tenis atau apa, saya lupa.  Saat itu saya kos di Mutiagana, Jebres.  Hasti datang di kos kami, pagi-pagi suntuk, naik bis (berangkat malam dari Bandung, dan nyampai di Solo pagi-pagi hari berikutnya).

Ketika itu tahun 1994, saya lupa bulannya.  Kenapa saya sebut tahun 1994? Karena ini adalah tahun penting bagaimana seorang ibu kos dapat menerima tamu pagi hari tanpa harus curiga ini itu.  Ketika Bernadeth tidak ada di kos, Ibu Kos langsung memperkenalkan Hasti kepada anak kos lain (saat itu Oshin adalah salah seorang yang bangunnya pagi), artinya Oshinlah yang menemani Hasti di kamar kos.  Begitu indahnya keramahtamahan yang ada  saat itu.

Selanjutnya, setelah saya bangun (siang tentunya) Oshin memberitahu saya bahwa ada seorang teman Bernadeth yang datang, bla bla bla… dan oshin harus melakukan hal yang lain… dan tidak perlu diminta, akhirnya saya pun yang menemani Hasti.  Singkat cerita, saya mengajak Hasti dengan saya  ke kegiatan Sentraya Bhuana (aktifitas Rock Climbing di Karanglo, kalau tidak salah).  Saya memperkenalkan Hasti kepada teman-teman saya di sana.  Hasti diterima dengan tangan terbuka oleh teman-teman saya.

Singkat cerita lagi, Kami saling mengirimkan kartu pos, setelah pertemuan itu.  Saat itu kami belum  musim handphone.  Saya masih ingat, ketika Hasti mengirimkan T-Shirt “Clift Hanger” dari Bandung, gudangnya Fashion.  Meskipun kami tidak berbincang tiap hari, hanya kartu pos atau surat, kami merasa dekat.  Dan dari sinilah pertemanan kami bermula.  Dan ketika Sept 1994 saya lulus dari UNS, saya mengirnformasikan kabar baik ini ke Hasti.  Tahun 1995, saya pun memutuskan untuk menerima tawaran Hasti untuk menjadi Asistennya.

Keputusan yang sangat besar buat saya.  Saya belum mengenal dekat Hasti, begitu juga sebaliknya.  Saya datang ke Bandung pertama kalinya, dan langsung tinggal dan hidup bersama dengan keluarga Hasti yang sama sekali belum saya kenal.  Langkah besar ini saya sadari sebagai gemblengan yang besar dalam memulai hidup saya yang sebenarnya.  Dan saya pun dapat hidup di Bandung sampai bulan Maret 2016.  Dan saya menganggap bahwa Hasti adalah teman, sahabat, saudara yang memperkenalkan saya ke dunia luar.

Saya dan Hasti adalah manusia yang berbeda, yang mempunyai pemikiran yang berbeda, tapi kami menempatkan pondasi yang kuat untuk saling menghargai.  Kami saling berbicara, kami saling mendengarkan, dan kami saling mengeluarkan pendapat meskipun pendapat kami berbeda.  Yang saya ingat, kami belum pernah bertengkar hebat meskipun kami sangat berbeda.  Hasti selalu memberikan kesempatan kepada saya untuk berkembang, kesempatan yang diberikan kepada saya terkadang membuat saya stress karena saya harus melakukan sesuatu yang besar dan saya merasa takut untuk gagal.  Hasti mempertaruhkan dirinya untuk memberikan kesempatan kepada saya.  Kepercayaan inilah yang selalu saya jaga untuk tidak mengecewakannya.

Banyak sekali hal yang menginspirasi saya dari pertemanan saya dengan Hasti, tapi yang ingin saya share di sini adalah bagaiamana pertemanan itu sederhana buat saya, dan saya mendapatkan banyak pelajaran, hikmah, cinta, penghargaan  dan banyak lagi dari pertemanan.

Dan di zaman ini, pertemanan menjadi lebih rumit, karena kesederhanaan sudah tidak dipertimbangkan lagi.  Menyuarakan keinginan/ pendapat tanpa adanya etika sepertinya sudah menjadi biasa.  Miris memang….  Berpendapat, beropini, menyuarakan keinginan itu wajar, boleh dan silakan…. Tetapi “tanggung jawab” terhadap apa yang kita lakukan adalah wajib.  Ini kata saya.  Tanggungjawab kepada diri sendiri, kepada lingkungan, kepada alam, kepada Tuhan… dan tanggung jawab yang lainnya.

Saya bukan orang yag beragama sempurna, tapi saya dididik oleh orangtua dengan sopan santun dan budaya, jadi paling tidak saya akan menjaga didikan tersebut di kehidupan saya.  Cara berpikir saya sederhana, saya akan menghargai orang yang menghargai saya.  Saya tidak akan memusuhi perbedaan, karena perbedaan itu menggembleng saya untuk menerima dan mengerti.

Saya tidak akan menaburkan benih-benih kecurigaan dalam pertemanan.  Jika saya tidak suka, saya tidak akan menjadi teman, sangat sederhana.  Teman itu saling mendengarkan dan saling menghargai, kata saya.  Jadi, sudah lama saya memilih teman, karena hanya itu yang dapat saya lakukan, saya membutuhkan aura postif, bukan aura negative.# (#Ditulis karena sedih melihat kawan menjadi lawan hanya karena berbeda pendapat)

 

English

Friend is simple, for me

Still remember the first time I came in Bandung (May 1995), for the invitation of a friend. I say ,friend’, because we feel “mutual” respect, could listen to and talk to each other.  Definitely imagine that we met and we live nearby.  No, I live in Solo and he lived in Bandung. We met only once in Solo, meet accidentally. Her name is Hasti.

She came to meet my roommate, named Bernadeth, came all the way from Bandung but Bernadeth was not there.  She was at a tennis tournament or something, I forget. At that time I was rent a room  at Kos Mutiagana, Jebres. (Kos = similar to dorm room, pay every month to the owner). Hasti came in our kos early morning (around 5 am), She took a bus (leaving night from Bandung and arrived Solo next day).

It was 1994, I forgot about date.  Why do I call in 1994? This is an important year how a mother/ owner of the kos can receive guest in the morning without having to suspect anything. When Bernadeth was not at the kos, the owner of the Kos directly introduce Hasti to another accupant (at the time Oshin was one of those early morning awakening), meaning that Hasti accompany by Oshin in a dorm room. So wonderful hospitality that existed at the time.

Furthermore, after I wake up (during the course) Oshin tells me that there is a friend of Bernadeth, bla bla bla … and Oshin have to do other things … And no need to be asked, finally I was accompanying Hasti. In a short story, I asked HAsti with me to the activities with my community “Sentraya Bhuana” (Rock Climbing activity in Karanglo, I think).  I introduce Hasti to my friends there. Hasti accepted by my friends. That’s really wonderful.

After our fist met, we send postcards each other. At that time we had not handphone. I remember, when Hasti send T-Shirt “Clift Hanger” of Bandung, great Fashion in Indonesia. Although we do not talk every day, just talking with a postcard or letter, we feel close each other. And this is where our friendship began. Sept 1994 and when I graduated from Sebels Maret University, I informed this good news to Hasti. In 1995, I decided to accept the her offer to become her assistant.

A very big decision for me. I didn’t know much yet about Hasti, and vice versa. I came to Bandung first time, and immediately I live with the family of Hasti,  completely I had no idea about her family yet.  A huge step,  I realized as great step in starting my true life. And I can live in Bandung until March 2016. And I consider that Hasti is a friend, a sister who introduced me to the outside world.

Me and Hasti is different, who had a different thought, but we put a strong foundation for mutual respect. We speak, we listen to each other, and we each issued an opinion even though our opinions differ. I remember, we have not had a big argument even though we are very different. Hasti always gives me the opportunity to evolve, the opportunity given to me sometimes makes me stress because I had to do something big, and I was afraid to fail. Hasti staked herself to give me a chance. It is her trust that I always take care not to let her down.

There are so many things that inspire me from my friendship with Hasti, but I want to share here is how your friendship is simple for me, and I get a lot of lessons, wisdom, love, appreciation and more than friendship.

And in this day, friendships become more complicated, because simplicity is not considered anymore. Voicing the intention / opinions without ethics seems to have become commonplace. Sad indeed …. Opinion, voiced the desire is natural, and should please …. But the “responsibility” of what we are doing is mandatory. It’s my word. The responsibility to yourself, to the environment, to nature, to God … and the responsibility of others.

I’m not a  religious perfect, but I was educated by parents with manners and culture, so at least I will keep the discipline in my life. My simple way of thinking, I would appreciate people who appreciate me. I will not be hostile to the differences, because the difference was galvanizing me to accept and understand.

I’m not going to sow the seeds of suspicion in friendship. If I do not like, I would not be friends, very simple. The friend listened to each other and appreciate each other, I said. So, I have long been choosing friends, because that’s all I can do, I need a positive aura, not a negative aura. # (I Wrote this, because I am sad seeing  “friend became enemy because of differences”)